Sabtu, 09 Mei 2015

Patah Hati Terhebat

Percayalah... Ini jauh lebih buruk dari sekedar patah hati.


Ibu, maafkan aku jika sampai hari ini, sampai umurku yang nyaris ke 18, aku masih selalu menyusahkanmu. Ibu, maafkan aku jika sampai hari ini aku sering membuatmu menangis, membuatmu kesal, membuatmu cemas. Ibu, maafkan aku jika sampai hari ini aku masih sering menangis, walaupun aku sering menangis dalam diam, namun justru tangisanku yang membuatmu cemas dan khawatir. Ibu, maafkan aku jika engkau mengira aku bukan sosok wanita yang tegar seperti yang engkau inginkan, tapi percayalah. Aku menangis bukan karena aku lemah, aku menangis karna aku sedih, aku belum bisa membuatmu bahagia dan bangga memiliki putri sepertiku. Maafkan aku, Ibu. Tapi aku berjanji, aku akan menjadi anak yang sukses di masa yang akan datang. Aku akan membahagiakanmu. Aku akan menjadi sosok wanita tegar dan sukses seperti yang engkau inginkan. Aku janji..

Bapak, aku tau sebenarnya kau kecewa kepadaku saat tau bahwa aku tidak diterima di tempat yang aku inginkan. Tetapi aku juga tau, bahwa amarahmu adalah simbol kasih sayangmu padaku. Aku tau bahwa kau diam-diam mengirim sebuah pesan agar Ibu membelikanku buah, makanan atau cemilan yang aku sukai agar aku tak sedih berlarut-larut. Aku tau bahwa kau diam-diam menelpon saudara dan mencari informasi-informasi pendaftaran di perguruan tinggi hanya untukku. Aku juga tau bahwa kau mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hanya untuk biaya kuliahku. Maafkan aku, Bapak. Aku belum bisa membahagiakanmu, menjadi anak yang berbakti untukmu, menjadi anak kebanggaanmu, menjadi seperti yang kau minta. Maafkan aku.....

  

Mengapa harus bersedih? Bukankah ada pepatah mengatakan, "banyak jalan menuju roma"? Lantas apa yang kau sedihkan? Merasakan dan menerima kenyataan bahwa 3 kali mendaftar universitas dan 3 kali gagal itu bukan hal mudah. Tetapi apakah dengan adanya air mata yang jatuh akan membuat segalanya berubah? Tidak. Selama ini, aku selalu berpikir bahwa aku selalu mudah mendapatkan sekolah yang aku inginkan. Tetapi semuanya berubah saat aku mulai merasakan masa SMA. Mendapatkan Perguruan Tinggi Negeri Favorit itu sulit. Aku harus melakukan usaha lebih, Allah ingin melihat seberapa keras usahaku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Allah ingin melihat bahwa aku LAYAK dan PANTAS berada di PTN Favorit! Ya. Aku harus mulai belajar kembali. Pengalamanku gagal di Poltekkes Semarang, Poltekkes Surakarta dan Universitas Diponegoro harus ku jadikan pengalaman dan pelajaran bahwa aku harus memulainya dengan USAHA LEBIH. Nilai rapot yang dijadikan patokan untuk diterima belum pantas aku dapatkan, aku perlu belajar lagi dan lagi. Aku harus mengikuti tes tertulis untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku harus menyusun kembali rencana A, B, C, D, E. Tes tertulis poltekkes, SBMPTN, tes tertulis UGM, tes tertulis STAN, tes tertulis STKS? Bismillah, aku akan mencobanya :)


Terimakasih selalu membuatku semangat saat aku terjatuh. Terimakasih memberiku sebuah pena bertali biru dan berlogo masa depanku untuk penyemangat di saat aku merasa lelah. Terimakasih atas segala senyummu yang selalu membuatku merasa lebih baik. Terimakasih telah menjadi bagian dalam hidupku. Terimakasih, semoga aku bisa bersamamu di universitas dan kota yang sama. Aamiin...


Sosok lelaki terhebat yang aku miliki pernah mengatakan padaku, "Bangkitlah dari keterpurukan! Kau harus semangat! Kau boleh memiliki cita-cita, tapi berusahalah sekuat tenangamu dan serahkan semuanya pada Allah. Biar Allah yang menentukan. Jalan Allah yang terbaik". Sementara sosok wanita tertangguh yang aku miliki mengatakan, "Jika itu rezekimu, Allah akan mempermudah semuanya. Allah sudah mengatur semuanya. Rezeki masing-masing orang berbeda, sayang. Tinggal usaha kita bagaimana untuk mencapai rezeki itu". Sosok lelaki kedua yang aku sayangi mengatakan, "Kau harus menyiapkan beberapa planning untuk masa depanmu. Jadi, jika planning A gagal, masih ada planning B planning C dan planning-planning lainnya". Seseorang pernah mengatakan padaku, "Apapun hasilnya kamu terima, jalanmu sudah ditentukan sama Allah, Allah pasti berikan yang terbaik buat makhluknya, tidak mungkin tidak". Sedangkan penyemangatku berkata, "Sabar dan tetap semangat. Jangan sedih, jangan down. Allah sedang mempersiapkan yang lebih baik untukmu. Angkat kepalamu, sayang! Nanti mahkotamu jatuh!". Intinya, apa yang menurut kita baik, belum tentu baik juga menurut Allah. Allah selalu lebih tau mana yang baik untuk kita. Rencana Allah jauh lebih indah dari apa yang kita minta. Jika kita mengalami kegagalan, itu artinya Allah sedang mempersiapkan hadiah terindah untuk kita.

09-05-2015
(Yuni Rahmawati, remaja yang sedang mencoba untuk sukses)

Followers